Bisnis yang Besar Dimulai dari Percaya dan Kerja Sama

Saya ingin meminta maaf kepada teman-teman pembaca ataupun follower tentang bergantinya domain banghans menjadi lufhans.com ini dan bisa di bilang saya memulai baru dengan web ini.

Pada awalnya saya berfikir untuk menjadikan web ini menjadi suatu portofolio atau bisa di bilang biografi tentang saya dikarena ada beberapa permintaan dari koneksi saya di linkedin menyertakan vlog atau web tentang biografi bagi pelamar yang berminat namun ada benak sedikit dalam hati untuk memulai sebagai pembisnis yang saya rasa bisa dimulai dari berdagang dan saya sudah memutuskan pilihan saya.

Yups, berdagang. Saya mulai dari kelas 5 SD sudah mulai berdagang ayam dulu masih seharga 25.000 tiap ekor tentu saja seorang anak kecil tidak bisa dilepas begitu saja disuruh berdagang, waktu itu saya meniru cara kakak saya menawarkan, menyesuaikan harga tawaran pembeli, hingga memberikan penjelasan mengenai jenis ayam dan ciri-ciri ayam sehat. Satu hal yang saya ingat waktu itu bahwa ada orang yang bertanya “iki ayam lanang opo wedok”. (ini ayam laki-laki atau perempuan). Saya waktu itu masih kecil saya jawab dengan polos saja namun kakak saya menjawab “owalah, iki ayam lanang mari sunat”. (ini ayam laki-laki sudah sunat) orangnya pun menjadi ketawa. Selain ayam ada yang lain sih seperti daun pisan, tahu, tempe, cao hitam karena memang keluarga saya seorang pedagang.

Saya ingin menceritakan pengalaman SMA saya yang berpernah berjualan hingga mampu membeli HandPhone K770i Cybershot yang waktu itu harganya masih 3 jutaan tetapi ada pengalaman yang lebih berkesan dari cerita saya namun secara teknis hampir sama dengan yang dilakukan orang ini. Pernahkan kalian mendengar seminar Tung Desem Waringin?. Yups beliau merupakan pengusaha sekaligus mentor dan mempunyai murid yang telah berhasil salah satunya Hendy Setiono.

Langsung saja, pada saat seminar semua peserta di suruh menyerahkan dompet, kunci mobil, hp, uang, yang tersisa hanya baju yang dikenakan dan kartu identitas (KTP) pada saat itu juga para peserta diberikan instruksi untuk memperoleh uang sebanyak-banyaknya dengan cara apapun dengan syarat tidak merugikan masyarakat dan diberikan batasan waktu. Semua peserta berbondong-bondong keluar dari gedung melakukan instruksi yang telah diberikan, ada yang menjadi pengamen, ada yang meminta-minta, namun ada salah satu peserta dengan insight dalam dirinya berlari menuju McDonald’s dan menemui kasir kemudian meminta bertemu dengan bos pemilik dari cabang tersebut tapi tidak semudah itu dengan bermodal kepercayaan bos cabang tersebut mau menjalin kerjasama.

“Saya Bapak X memiliki bisinis dibidang Y, saat ini saya sedang mengikuti seminar, saya mau anda bersedia menyiapkan makanan dan minuman untuk 300 peserta nantinya saya akan membayar makanan tersebut dengan harga 2 kali lipat dengan harga yang disini, sesuai jaminan saya beri kartu identitas saya.” Tak selang beberapa lama peserta tersebut membawa makanan dan minuman dan semuanya habis dalam hitungan jam. Kenapa bisa?. Pada saat seminar semua peserta tidak boleh diperkenankan membawa uang sedangkan mereka setelah mencari uang pasti membutuhkan makanan dan minuman, meski mereka mendapat uang tentunya uang tersebut digunakan untuk bukti saat perolehan uang di seminar.

Hasilpun membuktikan bahwa ide harus dibarengi dengan aksi. Masih banyak pengalaman-pengalaman dan cerita baik dari saya maupun dari teman saya, dilain waktu saya akan menceritakannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *